Evolusi Ketawa

fungsi genetik humor dalam mempererat kohesi sosial

Evolusi Ketawa
I

Pernahkah kita tertawa sampai perut kram hanya karena melihat teman kita tersandung atau menumpahkan kopi? Kalau dipikir-pikir lagi, itu sebenarnya reaksi yang sangat aneh. Secara fisik, tertawa itu aktivitas yang menguras tenaga. Napas kita tersengal, mata berair, otot wajah dan perut tertarik, bahkan kadang sampai bersuara aneh seperti tersedak. Alih-alih membantunya, kita malah memproduksi suara berisik secara refleks. Namun anehnya, kita sangat menyukai momen tersebut. Mari kita bedah keanehan ini bersama-sama. Kenapa evolusi yang terkenal sangat ketat dan efisien, justru mempertahankan respons absurd yang kita sebut humor ini?

II

Kalau kita memutar waktu mundur hingga jutaan tahun lalu, kita akan menemukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Tertawa ternyata jauh lebih tua usianya daripada bahasa itu sendiri. Para ahli biologi evolusioner menemukan bahwa nenek moyang kita sudah tertawa lama sebelum mereka bisa merangkai kata-kata menjadi kalimat. Coba kita perhatikan kera besar seperti simpanse saat mereka bermain saling menggelitik. Mereka mengeluarkan suara dengusan napas pendek-pendek atau panting. Ternyata, dengusan itulah versi purba dari tawa kita. Tapi tunggu dulu, mari kita gunakan nalar kritis kita. Alam semesta evolusi itu sangat pelit. Segala perilaku yang membuang kalori tanpa alasan biologis yang jelas pasti akan dieliminasi oleh seleksi alam. Lalu, kenapa gen kita bersikeras mewariskan mekanisme "buang-buang napas" ini dari generasi ke generasi? Pasti ada rahasia besar untuk pertahanan hidup di balik suara berisik tersebut.

III

Untuk memecahkan teka-teki ini, kita perlu melihat bagaimana otak kita memproses candaan. Para ilmuwan saraf dan psikolog sepakat bahwa inti dari komedi adalah benign violation atau pelanggaran yang aman. Otak kita ini pada dasarnya adalah mesin prediksi; ia selalu menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika tebakan itu dipatahkan oleh sebuah lelucon, tapi otak tahu kita berada di situasi yang tidak mengancam nyawa, otak kita merayakannya. Sebagai hadiah, otak menyuntikkan dopamine dan endorphin. Kita pun merasa rileks dan bahagia. Tapi cerita utamanya bukan sekadar soal bahan kimia di dalam tempurung kepala kita. Mari kita bicara tentang primata dan kebiasaan mereka mencari kutu atau social grooming. Mencari kutu adalah cara kera membangun aliansi, meredakan konflik, dan menunjukkan empati. Masalahnya, merawat bulu ini sangat menyita waktu. Satu kera hanya bisa mencari kutu satu kera lain pada satu waktu. Lalu, apa yang terjadi ketika leluhur manusia purba mulai berevolusi membentuk kelompok yang jauh lebih besar? Otak kita makin kompleks, suku kita membengkak hingga ratusan orang. Tiba-tiba, kita tidak lagi punya cukup waktu luang dalam sehari untuk mencari kutu semua teman satu suku kita. Kita menghadapi krisis sosial.

IV

Di titik kritis inilah evolusi kita melakukan salah satu keajaiban terbesarnya. Evolusi meretas otak kita, dan mengubah tawa menjadi vocal grooming atau pencarian kutu secara vokal. Ini adalah sebuah peretasan genetik yang sungguh jenius. Coba kita bayangkan. Lewat satu lelucon saja yang dilontarkan di depan api unggun purba, sepuluh hingga dua puluh orang bisa tertawa bersama secara serentak. Dalam sepersekian detik, gelombang endorphin yang sama membanjiri otak banyak orang sekaligus, tanpa perlu sentuhan fisik sama sekali. Tawa berubah bentuk menjadi lem perekat sosial yang massal dan efisien. Ia mengirimkan sinyal primitif ke bagian terdalam otak kita yang berkata, "Kita semua aman di sini, kita adalah satu kawanan." Kemampuan berbagi humor inilah yang membuat leluhur kita bisa menekan ego, bekerja sama memburu mammoth, dan bertahan dari ganasnya zaman es. Seseorang yang memiliki humor tinggi punya nilai kelangsungan hidup yang berharga karena ia bisa menyatukan sukunya. Jadi, humor bukanlah sekadar hiburan atau rekreasi semata. Ia adalah instrumen kohesi sosial paling canggih yang pernah diprogram oleh DNA kita.

V

Hari ini, kita tentu tidak lagi hidup di dalam gua atau berburu hewan buas. Namun, sirkuit purba di dalam otak kita masih bekerja dengan cara yang sama persis. Saat kita nongkrong bersama di kedai kopi dan tertawa terbahak-bahak mendengar keluh-kesah konyol dari teman sejawat, kita sebenarnya sedang mempraktikkan ritual purba. Kita sedang saling "mencari kutu" secara psikologis. Kita saling menenangkan, merawat kesehatan mental satu sama lain, dan memastikan bahwa ikatan persahabatan kita tetap kokoh. Merenungkan hal ini membuat saya merasa sedikit lebih hangat. Di tengah dunia modern yang bergerak terlalu cepat, penuh tekanan, dan sering kali terasa individualis, sebuah tawa yang pecah bersama teman-teman adalah pengingat yang indah. Tawa adalah bukti biologis dan historis bahwa kita memang dirancang untuk terhubung satu sama lain. Kita tidak bisa bertahan sendirian. Jadi teman-teman, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah lelucon receh di grup obrolan. Karena mungkin saja, lelucon sederhana itulah yang sedang menjaga kewarasan dan kemanusiaan kita tetap utuh pada hari ini.